Senin, 29 Januari 2018

Tiang Layar Kehidupan

Oleh: Azam msa puisi kehidupan, http://sangrinjani.blogspot.co.id/2015/02/tiang-layar-kehidupan.html?m=1

Masih saja aku tertunduk malu menatap langit
Batin seolah malu untuk menatap sinar mentari
Perjalana hidup sekan terus-menerus diiringi gemuruh sengit
Hendak bagaimana lagi sikap diri kuatkan perkara hati

Ragam macam cobaan hidup telaah ku dapatkan
Tetap ku lalui tiap jalan dengan selancar kebijaksanaan
Harapkan ketenangan bathin serta ridha-Nya ku dapatkan
Yang pada akhirnya terang kan datang menyusul gelapnya keadaan

Sebuah hakekat pasti yang selama ini ku pegang
Terhadap janji Rabb-ku bagi hamba Nya yang berjuang
Ganjaran pasti didapatkan atas ikhtiar yang terjelang
Cukuplah rasanya ulasan diri ku jadikan penopang

Biarkan nakhoda kapal tambatkan sauh jangkar
Akan kuambil peran diri sebagai tiang layar
Meski layar diturunkan dan tiada lagi memberi tatar
Aku akan tetap berdiri kokoh menyapa angin yang rela melamar

Setidaknya saat ini aku masih bisa melihat samudera
Meski langit hanya bisa ku pandang melalui fatamorgana
Bukankah akan lebih tumbuh kerinduan untuk memandangnya nyata
Ketimbang mereka yang memandang congkak keluhkan panas hujan seakan tiada rela
Membuat langitpun tiada ingin lirih untuk menyapa
Dan kepada mereka lah ku sampaikan daku turut berduka cita...

Jumat, 26 Januari 2018

Guru

Ilmumu sangat luas
Seakan tanpa batas
Seluas samudra lepas
Kebijaksanaan tak pernah kau lepas
Di setiap hembusan nafas
Engkau bagai tambang emas
Yang menghiasi realitas
Atas pemeliharaan Yang di Atas
Engkau bagai pelita
Yang turun dari langit ketujuh
Turun dari atas sana
Ke alam realitaku
Terangi bentangan batin manusia
Wahai angin yang mendayu-dayu
Yang berhembus dan berlalu
Bawa serta rasaku bersamamu
Rasa yang tersimpan dalam jiwaku
Yang kini merajai batinku
Memenuhi ruang rasaku
Kepada sang guru
Rasa yang takkan tersapu
Oleh sang waktu
Rasa yang kini masih tersisa
Yang takkan binasa
Takkan terhapus oleh masa
Atas izin Yang Maha Kuasa


Sabtu, 20 Januari 2018

CINTA : LAUTAN TAK BERTEPI

Oleh: Jalaluddin Rumi

Cinta adalah lautan tak bertepi
langit hanyalah serpihan buih belaka.
Ketahuilah langit berputar karena gelombang Cinta
Andai tak ada Cinta, Dunia akan membeku.
Bila bukan karena Cinta,
Bagaimana sesuatu yang organik berubah menjadi tumbuhan?
Bagaimana tumbuhan akan mengorbankan diri demi memperoleh ruh (hewani)?
Bagaimana ruh (hewani) akan mengorbankan diri demi nafas (Ruh) yang menghamili Maryam?
Semua itu akan menjadi beku dan kaku bagai salju
Tidak dapat terbang serta mencari padang ilalang bagai belalang.
Setiap atom jatuh cinta pada Yang Maha Sempurna
Dan naik ke atas laksana tunas.
Cita-cita mereka yang tak terdengar, sesungguhnya, adalah
lagu pujian Keagungan pada Tuhan.

Kamis, 18 Januari 2018

Labirin

Oleh: Zambary Zam

Jalan dan lorong berliku
Rintangan dan jalan buntu
Menjebak menyesatkanku
Menguras tenaga
Melemahkan fikiranku
Tekadku yang satu
Kalahkan kamu

Mazer kan ku sangkal
Jalan tak berujung pangkal
Lorong tak berakhir tak berawal
Bukan karenamu niatku batal
Walau terjatuh dan terjungkal
Aku bangkit tak mau gagal
Akhir yang tiada sesal

Berbekal kalam yang hakiki
Peta dan kompas tak kumiliki
Semua akan kuhadapi
Kuterjang semua yang merintangi
Aku kesatria sejati
Aku keluar dengan pasti
Berkah karunia Ilahi

Dari Bentangan Langit

DARI BENTANGAN LANGIT

Oleh :
Emha Ainun Najib







Dari bentangan langit yang semu
Ia, kemarau itu, datang kepadamu
Tumbuh perlahan. Berhembus amat panjang
Menyapu lautan. Mengekal tanah berbongkahan
menyapu hutan !
Mengekal tanah berbongkahan !
datang kepadamu, Ia, kemarau itu
dari Tuhan, yang senantia diam
dari tangan-Nya. Dari Tangan yang dingin dan tak menyapa
yang senyap. Yang tak menoleh barang sekejap.

Senin, 12 Juni 2017

Hitam


Kau taklukkan matahari
Kau buat hitam warna pelangi
Kau buat gerah embun pagi
Kau hitamkan nyala api
Kau buat kelam cerahnya hari
Engkau hapus pelita malam hari
Engkau singkirkan fajar dini hari

Kau menikam relung hati
Engkau binasakan cinta bersemi
Kau tenggelamkan harapan di hati
Kau robohkan hati yang bertabur emosi
Kau telah tinggal dalam palung hati
Maka merataplah diri

Jiwa yang hitam
Didalamnya ada api hitam
Api dari dasar jurang terdalam
Api neraka jahannam
Berwarna hitam lagi legam
Makhluk yang mampu cairkan logam
Takkan mati dan padam

Jiwa yang kelam
Bilamana hati telah tertikam
Beratapkan langit kusam
Tak bersiang hanya tersisa malam
Pekatnya takkan teredam
Beralaskan lumpur hitam
Dan samudera asam
Yang menghisap dan mengaram
Ternaungi gumpalan asap hitam
Semua pelita telah terbenam
Seluruh lentera telah tenggelam
Terselubungi suasana suram
Menyatu dalam kelamnya alam

Jiwa yang suram
Selalu bermuka masam
Kadangkala merenung dan terdiam
Meratapi masa silam
Pandangan hati kian memburam
Mata hati kini rapat terpejam
Dalam hati kesengsaraan terpendam
Mendalam dan semakin dalam
Takkan hilang walau setitik noda hitam
Selagi kegelapan masih bersemayam

Masa lalu telah membunuhmu
Masa lalu telah menikammu
Masa lalu tak berpihak padamu
Luka jiwa telah merubahmu
Rasa sakit telah menutup hatimu
Menyisakan jeritan jiwamu
Kenyataan memang kejam bagimu
Kau setia mengarungi lorong gelapmu
Lintasi dimensi waktu

Adakah cara runtuhkan hatimu
Yang tegar tak terkalahkan
Biarkab gelap menyelimuti duniamu
Jalan pulang telah ada pada kebinasaan
Sebagai pelengkap cerita hidupmu
Yang masih tetap berjalan

Kau tak pernah membenci rasa sakit Darinyalah kau tumbuh demi sedikit
Kau tak pernah membenci kegelapan
Dari situ lahkau memulai kehidupan
Kegelapan bertingkat tingkat
Membuatmu kuat dan semakin kuat
Sisi gelap menguasai diri
Hanya kegelapan yang tersisa di hati